Senin, 16 Mei 2011

KAJIAN KRITIS

KAJIAN KRITIS
PENGARUS BUKU LKS TERBITAN SWASTA
TERHADAP CARA BERPIKIR ANAK USIA SD

Oleh : Lilih Solihat, S.Pd Guru SDN 02 Selaawi
Kec. Sukaraja Kab. Sukabumi

Dalam Teori Piaget termasuk tahap operasional kongkrit (concrete operational
stage artinya mulai usia 7 tahun anak mampu berpikir logis seperti cara berpikir orang dewasa. Kemampuan penerapan logika dalam beberapa pengetahuan, seperti matematika, sains, atau membaca berkembang dalam waktu yang sama. Tetapi, Piaget mengingatkan bahwa kemampuan tersebut dibatasi oleh pengalaman mereka yang masih minim.
Oleh karenanya anak usia SD sangat memerlukan bantuan guru untuk memahami konsep-konsep yang dimiliki anak menjadi utuh.Dalam kasus PR yang diberikan kepada anak melalui Buku LKS, penulis memandang bahwa penggunaan LKS sebagai media pembelajaran pada usia SD sangat berbahaya bagi perkembangan berpikir anak. Mengapa?
LKS hanya melatih siswa menjawab soal; ia tidak akan efektif tanpa adanya pemahaman konsep materi secara benar. Pemaparan konsep kita dapatkan dari buku teks.
Untuk itu sudah sangat tepat Bahasa Indonesiaa pemerintah mengatur standar
mutu buku teks lewat Pusat Perbukuan Depdiknas. Hal ini berarti buku yang telah lolos dari lembaga tersebut sudah layak digunakan di sekolah. Apalagi dengan adanya
programbuku elektonik dari pemerintah, saat ini sangatlah mudah untuk mendapatkan buku teks bermutu. Tugas guru adalah membantu siswa memahami konsep dalam buku‐buku tersebut secara menyeluruh sebagaimana Teori Piaget di atas. Untuk mengecek pemahaman dan kemampuan siswa guru dapat memberi latihan atau PR berdasarkan apa yang telah dipelajari. Pemakaian LKS buatan pihak lain Bahasa Indonesiasa menimbulkan ketidak sesuaian (mis‐match) antara yang diterangkan dan yang dilatihkan.
Hal ini sangat mungkin, karena ibarat makanan, bahan makanan yang sama Bahasa Indonesiasa jadi lain hasilnya Bahasa Indonesiaa dimasak oleh koki yang berbeda.
Maka paling ideal, LKS yang baikadalah buatan guru itu sendiri karena dialah yang semestinya tahu persis akankebutuhan siswanya.
Hal yang paling penulis khawatirkan adalah penggunaan LKS sebagai pengganti buku ajar. Dengan beberapa pertimbangan pragmatis berupa: praktis, tak repot, harga
yang murah, bahkan adanya diskon yang cukup menggiurkan ,dll. ada beberapa guru yang lebih mengutamakan penggunaan LKS dalam pembelajaran di kelas ketimbang pemakaian buku teks. Nampaknya belum ada penelitian tentang dominasi LKS menggeser keberadaan buku teks atau buku ajar.
Namun sangat masuk akal untuk mempertanyakan apa yang sesungguhnya
terjadi di dalam kelas atas penggunaan LKS dan buku ajar karena sudah menjadi
semacam ‘rita’ bahwa setiap pergantian semester ada pembagian (baca: penjualan) buku LKS oleh pihak guru dan sekolah.
Memang dari pengamatan penulis terhadap beberapa LKS terbitan swasta pada umumnya sudah mencakup rangkuman materi, Contoh-Contoh penerapan konsep, dan latihan. Akan tetapi karena LKS memang dirancang sebagai latihan, maka penggunaan LKS sebahai bahan pembelajaran di kelas sama sekali tidak benar.


KAJIAN KRITIS
PENGARUH LKS BUATAN PENERBIT
TERHADAP PEMAHAMAN SISWA

Dra Endang Mulyani Guru SDN Kekenceng
Kec. Sukara Kab. Sukabumi

Barangkali memang LKS tersebut dibuat dalam hal sebagai latihan bagi siswaJika ternyata soal dalam LKS terlalu banyak atau kurang sesuai dengan keinginan guru, maka peran gurulah yang harus memilih LKS atau bagian LKS yang sesuai
Selain itu, di samping menyampaikan teori perkembangan Piaget, penulis artikel seyogyanya juga menyampaikan bahwa siswa SD berdasarkan perkembangan intelektualnya masih dalam tarap operasional konkrit sehingga pemahaman terhadap konsep (yang notabene abstrak) ditempuh melalui latihan prosedural (yang konkrit).
Oleh karena itu, perlunya latihan soal merupakan salah satu cara siswa mendapatkan pemahaman konsep yang benar dan komprehensif. Dari keseluruhan buku LKS yang beredar menyediakan ruang bagi siswa untuk menulis. Buku LKS yang mungkin banyak beredar dan dipergunakan oleh guru leBahasa Indonesiah merupakan “Buku Kumpulan Soal“. Untuk itu saya menyarankan adanya uji validitas dan reliaBahasa Indonesialitas terhadap soal‐soal LKS. Tetapi, jelas tidaklah tepat Bahasa Indonesiala kemudian buku semacam ini lantas disebut atau mewakili LKS, walaupun menggunakan judul LKS pada bagian kovernya. Jadi, sebaiknya guru-guru yang mau menggunakan LKS memilah‐milah terleBahasa Indonesiah dahulu mana yang merupakan LKS dan mana yang bukan LKS tetapi bertopeng LKS.
Saya memberi nilai positif bagi guru untuk merefeksi diri, apakah proses
pembelajarannya sudah maksimal atau belum. Terhadap LKS buatan penerBahasa Indonesiat, guru sudah selayaknya selektif dalam memanfaatkannya. Tidak semua LKS buatan penerBahasa Indonesiat merupakan LKS yang layak. Saya menyarankan “Buatlah LKS sendiri yang leBahasa Indonesiah baik dan sesuai dengan kebutuhan anak didiknya. Tentu untuk jumlah soal guru yang paling mampu memperkirakan ketuntasan belajar dari masing-masing bab.
Tidak harus banyak yang penting tuntas pemahaman materinya.”


KAJIAN KRITIS
KREATIVITAS PENULIS
BUKU PELAJARAN BAHASA INDONESIA
Oleh : Kosasih, S.Pd Guru SDN 02 Cibeureum Wetan
Kecamatan Sukaraja Kab. Sukabumi

Sekali lagi, sekali lagi, setelah berkali-kali, kita kembali membaca artikel yang menyoroti dengan tajam- kalau tidak Bahasa Indonesiasa dikatakan sadis- tentang kegagalan pembelajaran Bahasa Indonesia dalam jenjang pendidikan formal dari TK sampai Perguruan Tinggi. Pembelajaran Bahasa Indonesia dianggap tidak berdaya menciptakan generasi yang kreatif dan inovatif dalam berkomunikasi secara lisan maupun tertulis dalam wilayah global yang makin dinamis. Begitu banyak ungkapan kekecewaan terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia.
Menurut Alfianto, pembelajaran Bahasa Indonesia tidak berhasil menjadikan manusia Indonesia menjadi pengguna Bahasa Indonesia yang mahir. Padahal, jika kita mau melihat dengan jeli , kita Bahasa Indonesiasa melihat begitu banyak kompetensi berbahasa yang dimiliki kalangan generasi muda. Berbagai karya kreatif Bahasa Indonesiasa kita baca di berbagai surat kabar maupun majalah-majalah. Bahkan , jika kita sering berjalan-jalan ke took-toko buku, banyak karya seperti novel, kumpulan cerpen, dan kumpulan puisi karya penulis muda yang telah diterBahasa Indonesiatkan dan berhasil merebut simpati pemirsa.
Hal yang luar Bahasa Indonesiaasa, tulisan kreatif kini juga sudah lahir dari tangan dingin penulis pemula yang masih sangat belia. Tengoklah nama seperti, Izzati, Faiz Abdurrahman, dan Nilam ZuBahasa Indonesiar yang karya-karyanya telah memecahkan rekor MURI . mereka juga telah mampu memompa semangat menulis rekan-rekan sebayanya.
Memang contoh tersebut barangkali bukan merupakan produk langsung dari keberhasilan pembelajaran Bahasa Indonesia . Namun, paling tidak ini Bahasa Indonesiasa memberikan harapan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia juga Bahasa Indonesiasa mengubah kepompong menjadi kupu-kupu dengan warna-warni yang indah.
Satu hal lagi yang dikatakan penulis bahwa buku-buku bacaan sastra sangat kurang sehingga minat baca sastra sering mandul karena tidak terakomodasi. Kondisi itu mungkin benar kita alami beberapa wakti yang lalu. Namun, kondisi itu kini sudah bergeser atau Bahasa Indonesiasa dikatakan berubah sehingga memberikan harapan kepada kita bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia yang kita lakukan mampu mengubah kepompong menjadi kupu-kupu.
Buku-buku sastra sekarang sudah membanjiri toko-toko buku dan perpustakaan. Berbagai lomba penulisan buku bacaan sastra sering diadakan seperti lomba penulisan yang digelar setiap tahun oleh Pusat Perbukuan dan majalah sastra Horison.
Memang jika kita membandingkan antara demam menonton televisi dengan minat membaca dan menulis sastra pasti tidak akan sebanding. Hal itu karena begitu derasnya arus godaan televisi yang mampu menggaet minat dan selera publik yang cenderung instan dan mudah.
Oleh karena itulah, inilah tantangan dan harapan bagi kita para guru Bahasa Indonesia di sekolah. Sesungguhnya kita tidak perlu terus-menerus pesimis terhadap belum berhasilnya pembelajaran Bahasa Indonesia . Kita yakin mencari kamBahasa Indonesiang hitam kegagalan pembelajaran Bahasa Indonesia hanya akan membuat kita kehilangan optimisme.
Maka mari kita awali melangkah dengan yakin bahwa para guru Bahasa Indonesia mampu menjadikan pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran favorit. Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan pembelajaran yang ditunggu oleh siswa-siswa kita. Pembelajaran Bahasa Indonesia mampu menarik minat siswa-siswa kita sehingga mereka leBahasa Indonesiah berminat untuk mengembangkan kemampuan dalam Bahasa Indonesiadang yang produktif,misalnya menghasilkan karya atau pun tulisan yang berbobot.
Marilah para guru, tunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia mampu mengantarkan siswa untuk bermetamorfosis dari ulat menjadi kupu-kupu yang indah yang siap menghiasi dan menjelajahi belantara bahasa. Semoga!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar